Kamis, 27 Oktober 2011

Propaganda dan Agenda Setting Media Massa Merubah Pola Pikir Masyarakat



Saya menulis essay ini sekedar merespon bagaimana sikap masyarakat sekarang ini dalam menyikapi suatu permasalahan yang sebenarnya berujung kepada peran media masa sebagai provokator dalam membentuk prilaku masyarakat. Media massa pada dasarnya mempunyai empat fungsi, informatif, edukatif, hiburan, dan tranformasi nilai positif. Namun pada kenyataannya media lebih domain kepada fungsi informatif (lebih jelasnya provokatif) yang mengutamakan kecepatan sehingga melupakan faktor kedalaman. Hal ini berdampak pada semakin cepatnya peralihan dari satu isu ke isu lain tanpa ada isu yang benar-benar tuntas di bahas. Misalnya dari skandal bank Century ke video shinta-jojo, muncul kasus gayus, konflik PSSI, isu resuffle, tiba-tiba booming video udin sedunia dan sekarang yang paling baru kasus icha-umar dan video lipsing polisi gorontalo. Wow, begitu cepatnya perubahan isu penting menjadi isu tidak penting. Apakah video lipsing sinta-jojo adalah sebuah kebutuhan yang mendasar bagi rakyat Indonesia? Bisakah video udin sedunia menumbuhkan rasa nasionalisme di hati masyarakat? Atau mungkin isu seperti ini hanyalah peralihan topik untuk melupakan isu besar ? Terus gimana kabarnya Bank Century dan Gayus?
Berita-berita aneh yang sangat di blow up oleh media massa, disadari atau tidak  justru memberikan suatu reaksi yang dapat merubah pola pikir dan prilaku masyarakat yang sebenarnya mereka akan berpikir berkali-kali untuk melakukan hal tersebut. Akan tetapi dengan terus disajikannya berita-berita aneh tersebut yang pada akhirnya pikiran (otak) sebagian orang mulai terkontaminasi pada suatu kondisi yang menurut mereka hal tersebut dapat dilakukan untuk menarik simpati dan dukungan, dan mereka mulai menirukan dan atau melakukan hal-hal bodoh yang menurutnya “ampuh” untuk pencapaian kehendak mereka tanpa mengindahkan norma, aturan dan hukum yang berlaku di Republik ini. Dengan kondisi tersebut media massa seakan kejatuhan durian runtuh. Semakin aneh berita yang didapat akan semakin sering pula berita itu disajikan, dengan kata lain, berita aneh adalah pundi-pundi emasnya media massa.
Saya sangat prihatin dengan pemberian informasi yang tidak berimbang akhir-akhir ini, mengingat kondisi SDM masyarakat Indonesia yang masih rendah, sehingga berita yang disajikan akan langsung diterima tanpa melihat sisi lain dari maksud berita itu disajikan. Dengan kondisi masyarakat yang seperti ini, media massa hendaknya bisa bersikap lebih bijaksana dalam penyajian-penyajian berita, sehingga masyarakat mampu mencerna apa tujuan dari suatu pemberitaan tersebut disajiakan, untuk ditiru atau ingin menyampaikan bahwa hal tersebut tidak baik dan tidak layak untuk ditiru?
Masalah hukum misalnya, yang ditampilkan bukan bagaimana peran hukum dalam memberikan keadilan bagi masyarakat. Akan tetapi yang ditampilkan adalah bagaimana orang-orang yang berusaha mempolitisir hukum sehingga apa tujuan hukum yang sebenarnya sudah tidak dapat kita lihat lagi. Contoh konkrit adalah kasus Artalita yang mempunyai fasilitas hotel dalam penjara dan seorang Gayus Tambunan pun bisa pergi ke Bali sesuka hati padahal masih label tahanan. Disisi lain seorang pencuri semangka yang mempunyai alasan kuat kenapa dia mencuri, menekam di penjara yang dingin dan berharap keadilan akan segera datang.
Berbicara tentang provokasi media massa, media massa memang hanya jalinan antara tinta, suara, visual, dan kertas. Namun, ia bisa mempengaruhi siapa saja untuk bertindak; media secara beruntun memberikan informasi, merayu massa tanpa henti. Penyajian berita dan informasi adalah proganda yang kadangkala tidak disadari oleh masyarakat. Sebagai gambarannya adalah ketika Pemilu berlangsung para kontestan dengan menggunakan media berusaha mepromosikan dirinya melalui partai yang mengusungnya. Dengan begitu mereka berusaha mempropagandakan dirinya agar mendapat simpati masyarakat sehingga banyak yang memilih.Kemudian untuk memperoleh suara yang banyak, tak sedikit diantara mereka yang melakukan praktik Black Propaganda. Menggunakan cara-cara yang licik dengan menghasut dan mengadu domba. Tak ayal dengan propaganda jenis ini terbersit sebuah istilah “lempar batu sembunyi tangan”. Pelaksanaan Pemilu memang rawan dengan berbagai kegiatan Propaganda utamanya yang berbau negatif. Segala cara yang bisa ditempuh digunakan demi memenangkan pemilihan terlepas dengan jalur yang terhormat dan tidak terhormat . Disisi lain kita sebagai “korban” dari propaganda media massa hanya bisa menurut dengan apa yang mereka katakan tanpa kita mengerti apa maksud dari perkataan mereka. Kalau sikap kita masih terus seperti ini, bagaimana dengan masa depan kita, apakah pikiran kita akan selalu di dikte oleh setiap propaganda-propaganda media?
Selain pelaksanaan pemilu diatas, Propaganda yang sering dilancarkan media pada dewasa ini ialah mengenai pemberitaan Islam dan teroris. Islam dan teroris seolah menjadi satu paket yang terus diliput oleh media. Sehingga terjadilah opini publik yang mengartikan Islam sebagai agama yang keras, bengal, dan barbar yang menghasilkan partisipan terorisme belaka. Padahal disatu sisi kita adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, kalau islam di cap sebagai agama yang radikal, itu sama halnya mencap mayoritas rakyat Indonesia mempunyai pemikiran-pemikiran yang radikal.
Media memang menjadi alat Propaganda yang efektif untuk menghasilkan dan membentuk pemikiran dan pola pikir masyrakat. Maka, propaganda pun dengan demikian terkait erat dengan salah satu teori dalam komunikasi yakni, teori agenda setting. Dengan menggunakan teori Agenda Setting media berusaha membuat penting sebuah sajian informasi. Sehingga, menghasilkan masyarakat yang terpengaruh karena dengan begitu masyarakat dapat dengan mudah saja mengikuti dan menyetujui apa yang disampaikan dalam media massa. Contoh dalam kasus penyerangan warga Ahmadiyah di Cilegon, Banten oleh sekelompok orang yang “di duga” ormas islam tertentu. Media memberitakan semua kesengsaraan dan kesedihan yang dialami oleh warga Ahmadiyah akibat dari serangan yang dilakukan oleh sebuah ormas islam . Hal ini menimbulkan opini-opini miring masyarakat terhadap suatu ormas islam tertentu bahkan yang menyampaikan opini miring tersebut adalah orang islam itu sendiri, sehingga terjadilah perang opini diantara umat islam yang nantinya akan menyebabkan perpecahan di kalangan umat islam dan mungkin berdampak sangat besar terhadap stabilitas negara. Inilah yang sangat saya khawatirkan, apabila media massa hanya memberikan informasi sekedar untuk komersial belaka, tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi di kemudian hari.
Akhirnya saya berharap kepada media massa khususnya yang menyajikan berita secara audio dan visual agar dapat selektif dan lebih memberikan pendewasaan kepada masyarakat bukan malah mendoktrin pikiran dan prilaku masyarakat kepada hal-hal yang justru akan mengganggu stabilitas dan keamanan daerah/nasional. Berita bukan refleksi dari realitas melainkan kosntruksi dari realitas. Sebagai masyarakat modern, masyarakat yang selalu membutuhkan informasi, kita harus peka terhadap media. Hal ini bertujuan agar kita tidak salah dalam menerima berita. Kita jadi selektif dalam menanggapi media massa. Karena menjadi audiens yang pasif tidaklah menyenangkan. Akankah selamanya kehidupan kita diatur berdasarkan propaganda dan agenda setting dari media?


IDENTITAS PENULIS

Nama                 : Muhammad Firdaus
NIM                   : 101331052
Kelas                  : 1 Telkom B
Prodi                  : T.Telekomunikasi
Jurusan               : T.Elektro
Alamat               : Gg. Abah Muhalim, Ciwaruga
No Telepon        : 085723637526

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer